Contoh Cerpen Singkat dan Panjang Persahabatan

contoh cerpen

Contoh Cerpen – Pengertian Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek. Contoh Cerpen merupakan suatu bentuk prosa naratif fiktif. Biasanya cerpen cenderung ditujukan langsung pada tujuan pembahasan dibandingkan dengan karya fiksi lainnya.

Contoh Cerpen juga termasuk karya tulis yang menceritakan sebuah kehidupan seseorang dengan singkat, ringkas, padat dan mengandung pesan yang akan disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Artinya adalah, para pecinta cerpen bisa membaca sebuah cerpen dalam waktu yang tidak terlalu lama atau berlarut-larut.

Berbeda dengan sebuah novel yang mana memiliki berbagai problematika yang dibahas dan memakan waktu berjam-jam atau beberapa hari untuk menyelesaikannya.

Contoh Cerpen Persahabatan

contoh cerpen

Aku memiliki sahabat mereka riza, muna, dan dewi. Pada suatu hari kami didalam kelas setelah bel jam pergantian pelajaran berbunyi kami ngobrol sementara, dewi dan muna selalu ngomongin cowok sampai-sampai riza jengkel dengan mereka taulah sifat riza ia tak suka mikirin pacaran apa lagi cowok, diantara kami berempat yang masih lajang aku dan riza, dan muna, dewi sudah punya pacar dan sudah beberapa kali ia putus jadian dengan cowok yang berbeda.

“mun tau gak cowok gue itu ganteng banget” kata dewi
“kalau gue biar pu n kurang ganteng tapi kaya lho”sahut muna
“hello jadi kita gak dianggap nih?”tanya riza
aku hanya diam saja

“emang kenapa sih riz?, coment aja, bilang aja elo sirik”kata muna
“oh ya?, dew!, pacar elo itu yang keberapa?”rindir riza
“apa elo bilang?”kata dewi

tiba-tiba guru masuk
“selamat siang!”kata guru
kami pun bubar dan menun da percakapan kami.

Setelah kejadian itu hubunga kami semakin buyar, biasanya kami menyantap makan siang bersama kini hanya kita aku dan riza, sedangkan muna dan dewi makan siang dengan cowok mereka

“riz kelihatanya jarak kita semakin jauh”kataku
“biarkan saja mereka, ir makasih ya elo masih mau denganku!”katanya sambil matanya berkaca
Aku pun memeluknya

Hingga pada suatu hari muna diduakan oleh cowoknya, dan dia minta tolong kami
“plizz, bantu gue ya!”kata muna
riza diamsaja dan meninggalkan kami begitu saja
“riz!,”kata muna

Akupun menjelaskan alasan kenapa riza tidak menjawabnya
“mun asal elo tau kenapa riza tidak menjawab permintaan elo, elo pikir ya!, elo telah menyakiti gue dan riza, gue masih bisa memaafkan elo tapi riza?, gue saranin elo harus minta maaf dengan riza, pikirkan itu!”kataku

Aku pun meninggalkanya, dan air mata muna yang semakin deras keluar.

Setelah itu muna mencoba untuk minta maaf kepada riza,
“riz!, maafin ya?”kata muna
“elo minta maaf?, apa tujuan elo?”kata riza
aku berusaha untuk membujuk riza agar ia mau untuk maafin muna,
“riz maafin ya?, gue yakin muna minta maaf hanya untuk kembalinya persahabatan kita yang dulu”kataku
“bener begitu mun?”tanya riza muna pun mengangguk mantap dengan mata berkaca, merereka berpelukan aku pun ikut terharu dengan kejadian itu.

Setelah kejadian itu kami semakin dekat, pada suatu hari teman sekelas kami yaitu ifa ia mengirim pesan singkat yang berisi tentang dewi sahabat kami, membutuhkan do’a dari kami semua untuk kesembuhanya dari penyakitnya yaitu kelainan saraf otak, kami pun kaget, keesokan harinya kelas kami ramai dengan suara tangisan,

“riz maafin gue!, gue salah telah mengingkari janji kita untuk menjadi sahabat slamanya”kata dewi
“iya wi!, gue maafin”kata riza
“nah ginilah yang gue mau”kataku

kamipun berpegang tangan dan saling bersumpah untuk menjadi sahabat selamanya
“Kami berjanji untuk menjadi sahabat untuk selama-lamanya”kata kami bersamaan, tiba-tiba tawa kami meledak bersamaan.

Contoh Cerpen Pendidikan

Pak Tani dan Ladangnya

Di suatu hari yang amat cerah, Pak Tani sedang menggarap sawahnya untuk ditanami jagung dan umbi-umbian lainnya. Dengan hati riang, Pak Tani mulai menanam bibit-bibitnya, berharap esok-esok cepat tumbuh sehingga bisa cepat dijual.

“Semoga tidak lebih dari dua minggu, bibit-bibit ini sudah tumbuh dengan baik. Uang hasil menjual hasil panen kali ini akan aku belikan sebuah sepeda untuk anakku” ujar Pak Tani sambil bersiul-siul dengan wajah yang ceria.

Hari demi hari mulai terlewati. Pak Tani merawat ladangnya denghan baik hingga semua tanaman mulai berbuah.

“Wah tanamanku sudah mulai berbuah, akan aku panen esok hari, saat ini biarlah aku menikmati hari yang cerah bersama hasil ladangku yang banyak” ucap Pak Tani dalam hati, seraya mengambil pacul dan peralatan lainnya untuk pulang.

Malam harinya, tikus yang suka mencuri makanan datang ke ladang Pak Tani.

“Hmmm, wangi makanan di ladang ini membuatku lapar. Aku akan mengajak teman-temanku untuk berpesta disini” Lalu si tikus memanggil teman-temannya untuk datang ke ladang. Dalam sekejap, setengah hasil ladang Pak Tani sudah habis dimakan oleh tikus. Dan tikus-tikus itupun pergi setelah merasa kenyang.

Esok harinya, Pak Tani datang ke ladang, bersiap-siap untuk memanen. Alangkah terkejutnya Pak tani melihat ladangnya sudah berantakan.

Baca Juga  Proses Pengolahan Kayu Menjadi Meja dan Kursi

“Apa-apaan ini! Mengapa hasil ladangku hampir habis dimakan hewan?! Lihat saja, akan aku balas mereka semua!”

Pak Tani sangat marah, ia lalu menaruh jerat-jerat di sekitar ladang agar tikus-tikus yang datang tidak akan pernah bisa masuk ke ladangnya lagi.

“Rasakan tikus-tikus nakal! Espok pagi akan aku tangkap mereka semua!” ujar Pak Tani menahan amarah.

“Ah, aku lelah sekali siang ini. Tenagaku habis untuk memasang jerat-jerat ini. Esok saja lah aku lanjutkan memanen hasil ladang yang tersisa. Biar saja malam ini tikus-tikus itu merasakan akibatnya”

Setelah pak tani pergi, sekawanan burung terbang melewati ladang Pak tani. Burung-burung itu melihat masih ada banyak buah yang bisa dimakan.

“Wah rupanya tikus tidak menghabiskan isi ladang ini semalam. Ayo teman-teman, kita isi perut kita agar tak kelaparan di perjalanan.” Ajak si burung kepada kawanan burung lainnya.

Dan dalam waktu yang singkat, ladang Pak Tani sudah semakin berantakan oleh kawanan burung itu. Sekarang bahkan tidak ada lagi yang bisa dipanen oleh Pak Tani.

“Sepertinya Pak Tani harus belajar untuk tidak pernah menunda pekerjaan” ucap tikus dan burung seraya tertawa meninggalkan ladang Pak Tani.

Contoh Cerpen Persahabatan Sejati

Ga banyak yang bisa gua lakuin di sini….. Semua terasa ga berguna bagi gua, hmm apalagi gua, terasa sangat ga berguna buat semua.
Hidup gua terasa sangat hampa, “monoton” kalo kata temen gue bilang. Well, malem ini… Kaya malem-malem sebelumnya, semenjak gua belajar megang gitar, gua selalu ngebayangin kalo gua bisa mainin ni gitar di depan temen-temen deket gua, cewe-cewe d kelas gua, temen-temen satu sekolah yang kenal ataupun belum mengenal gua, ampe semua orang di luar sana yang sama sekali belum pernah ngeliat gua… Dan khusus yang satu itu, kenalin.. Nama gua.. Dega a.k.a.. D_GhooL. Kenapa? Aneh? Heh.. ga usah sambil monyong gitu bacanya. Sini gua jelasin..

Kalo ditranskripsi secara fonetis, {dghool} menjadi [d?gul] bukan [d?gol]. Jadi, bacanya pake fonem /u/ bukan /o/. Jadi lo lo semua ga perlu sampe monyong kaya manggil bemo, ngerti..?!

Nah kembali ke topik.. Seperti yang udah gua bilang tadi, bahwasanya setiap malam gua selalu ngebayangin jadi rockstar. Yea yea yea.. Kenapa gua bilang tiap malem..? Ya karena ampe malem ini gua belum bisa ngerasain, apalagi bener-bener menjadi seorang bintang rock. Hmm

Eits, tunggu.. Gua ini cuma salah satu dari berjuta pemimpi di dunia ini.. Dan di daerah tempat gua tinggal, ngejoglog segelintir orang kaya gua, segelintir pemimpi. Kenapa gua bilang gitu? Karena ga dikit di tempat gua ini yang idupnya ga lebih beruntung dari gua.. Dan kalo gua potong lagi segelintir pemimpi di tempat gua tadi menjadi sekelompok pemimpi, itulah kelompak gua.

Selain gua, adalah temen deket gua, Ave. Ga jauh berbeda dengan gua, malah lebih parah kali. Karena dia adalah salah satu orang yang bikin gua mempertahankan mimpi gua dan merupakan pengaruh terbesar dalam kelompok gua ini. Kenapa bisa gitu?? Gua juga ga ngerti, tapi yang gua tahu dia punya mimpi yang tinggi yang dia digantungin di atas langit. Yea.. mungkin karena mimpinya yang lebih tinggi dari puncak himalaya itu kali ya, yang ngebuat dia jadi kaya gitu.

Tapi ada benernya juga sih yang dipikirin sama dia, intinya adalah memperjuangkan apa yang jadi harapan kita, Mungkin agak sedikit gila kali ya.. kenapa, karna bermimpi menjadi Rockstar yang sukses, sementara kita berada di dalam kenyataan yang bisa dibilang bertolak belakang, it’s really difficult to accepted.. tapi gue gak bisa nyangkal bahwa semua mimpi itu selalu ada di ruang yang berbeda di dalam diri Gue. Di ruangan khusus yang udah di kunci rapet-rapet dimana ga ada seorang pun atau hal apapun yang bisa ngeganggu..—Hati. Dan gua yakin suatu saat gua bisa nemuin kunci itu dan ngebuka ruang di hati gua itu untuk ngedapetin apa yang ada di dalemnya.. ya.. mimpi gua.

Gue sadar setiap perjuangan pasti akan ada kendalanya, dan takterkecuali dengan perjuangan Gue. Yaitu, memperjuangkan mimpi gue agar gue dapat meraihnya kelak. Kalo kata peribahasa sih.. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Hmmmm dari sejak gua sekolah dasar kali gua denger tu peribahasa, tapi baru belakangan ini gua ngerasain bener-bener makna yang ada di dalamnya.. Kemana aja gua ya..? Mungkin mimpi inilah jalan kedewasaan gua ya.. sekarang gua bener-bener ngerti kalo semua ini sangat berarti buat gua.

Jengjengjeng.

Tibalah gua di sini. Di mana gua bisa mencapai mimpi-mimpi dan cita-cita gua. I don’t know, but.. yea setidaknya dalam bayangan dan imaji gua, di sinilah tempat yang paling bisa buat gua jadiin pelarian. Hmm pelarian yaa – -“.. Mungkin kata yang kurang pas, tapi tetap aja sekilas gua terpikir seperti itu. Lari dari orang-orang yang ga peduli ma gua, orang-orang yang ga percaya ma gua, orang-orang yang ga suka ma gua, dan yang paling penting orang-orang yang benci ma gua dan yang gua benci tentunya.

Baca Juga  12+ Contoh Surat Penawaran Barang

Saat ini gua tengah belajar di salah satu perguruan tinggi yang lumayan terkenal yang berada di kota kembang. Suka ngga suka sih sebenernya. Gua ngerasa salah jurusan.. mahasiswa mana yang ngga boring sampe ubun-ubun kepala kalo ngerasa dirinya salah jurusan? Harus belajar bertahun-tahun mempelajari ilmu yang dia tidak minati. Tinggal bertahun-tahun di kota lain untuk mempelajari ilmu yang tidak diminati dan yang paling ngga banget adalah ngabis-ngabisin duit ortu dan ngabisin waktu.. aaaah ironisss!

Oke, jalan satu-satunya yang emang paling masuk akal adalah belajar mencintai ilmu tersebut. Sama seperti jatuh cinta kepada sesama manusia. Mungkin kepada ilmu yang gua pelajari ini gua ngga ditakdirkan untuk jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin setelah beberapa bulan atau beberapa semester karena sering ketemu dan bertatap mata dengan halaman demi halaman buku-buku kuliah dan dosen-dosen yang Mpunya ilmu tersebut, gua bisa jatuh cinta.

“Woy! Bengong aja lo..”
“Eeeeee ee eeeh.. sialan lu.. jatoh kan kertas gue!”
“Hahaha hampura atuh kangmas..”
“Aah dasar medok lu.. Jawa ya jawa aja.. ga usah ngimpi jadi sinden kembang boled segala lu..”
“Kembang mboled? Apaan? Kembang ndesa sih gue tau Gul.”
“Bhahaha.. Jawir.. jawir.. Udah hampir setahun di Bandung masih medok aja lu. Cari cewe pribumi sono! Minta diajarin bahasa sunda.”
“Emm bener juga kamu yah.. Udah pertengahan semester 2 gini.. Aku belum bisa ngobrol pake bahasa sunda.”
“Tapi udahlah.. lama-lama juga bisa ko. Gua juga bisa ngomong sunda karena emang udah biasa dari kecil..”
“Oh.. Eh ngomong-ngomong tu kertas apaan Gul?”
“Apa? Ini? Ini poster Ten..”
“Poster apaan?”
“Festival..”
“Festival apaan?”
“Band..”
“Band apaan?”
“Band.. Alaah banyak nanya lu!”
“Hehehe.. Ko pake pusing segala sih?”
“Hmmmmmm..”
“Bro?”
“…….”
“Ahh.. cerita dong sama gue.. kaya habis ngehamilin anak orang aja lu pake rahasia-rahasiaan segala..”
“Sialan lu.. hmmmm.. oke. Ten, lu tau kan minggu depan ada ulangannya Pak Bas?”
“Minggu depan?”
“Tanggal 16!”
“Oh iyah.. memangnya kenapa?”
“Nah.. lu juga tau kan kalo penilaian Pak Baskoro itu paling gede dan paling nentuin adalah di ulangan ahirnya?”
“Iyah iyah.. terus kenapa?”
“hhhh.. ni poster.. festival band.. tanggal 16. Lu ngerti kan?”
“Lu mau ikutan?
“Banget..”
“Terus ulangan lu gimana?”
“Itu dia yang bikin gua pusing Ten..”


Hidup memang selalu begitu. Selalu ada pilihan. Karena memang kita bertahan hidup itu juga adalah sebuah pilihan yang kita ambil. Bisa saja kita memilih tidak hidup. Bisa saja kita mengahiri hidup. Itu adalah pilihan. Hidup atau mati. Memang sudah ada takdir kita yang berjajar di depan. Tapi, manusia tetap masih memiliki kebebasan untuk memilih. Yang bisa dilakukan jika dihadapkan pada dua pilihan adalah mengandalkan intuisi. Mempertimbangkan pilihan manakah yang paling bisa mendatangkan keuntungan. Di sini, detik ini.. Gua sedang ada dalam situasi tersebut. Kedua pilihan itu memang memiliki tujuan berbeda. Tapi sama pentingnya. Festival itu mimpi gue.. gue harus ikut! Tapi.. gimana ulangannya? gimana nilai gue? gimana ortu gue? aah..

16 Agustus.

“Dega? Kamu sakit?” Tanya Baskoro.
“Mmm.. ehh.. tidak pak..”
“Knapa muka kamu ditekuk seperti itu? Ini soal dan lembar jawabannya. Kerjakan dengan baik.”
“Iyah terima kasih pak.”

Gua langsung duduk di kursi paling belakang. Gila, ni soal ulangan bahasa indonesia ko tiba-tiba tulisannya jadi kaya huruf arab begini? Aahhh.. Harusnya gua sekarang lagi megang lirik sama kord lagu, bukannya soal sama lembar jawaban.. harusnya gua sekarang lagi megang gitar sama mic, bukannya pulpen sama tip-x. Degggggg! Tiba-tiba gua keinget seseorang. Ada bayangan.. Ibu.. Sedetik napas gua sesak. Gua langsung keinget sama pesannya sebelum gua kuliah dulu. “ A.. sing getol kuliahna nya a. Keun bae, wios ulah mikiran biaya na. Keun weh ku si bapak sareng mamah. Aa mah diajar weh nu getol. Sing jadi conto pikeun si neng..”1 Hhhhhhh. Sejenak gua tertunduk. Huruf-huruf arab yang ada di soal gue perlahan bertransformasi menjadi huruf alfabet bahasa indonesia. Otak gua mulai jalan.. Nah, sekaranglah saatnya.. Nyontek!. Ampun dehh! Kirain beneran mau mikir lo Gul!

Di kelas. Matakuliah Morfologi..

Kursi ini udah kaya ada lemnya. Dari tadi sambil nunggu dosen pantat gua ga ngangkat satu centipun dari dari ni kursi. Gila.. masih kepikiran aja gua sama festival. Gua ngiler setengah mampus ngebayangin gua naik panggung. Gua denger tepuk tangan penonton. Lampu spotlight nyenterin gua. Ada angin yang niup-niup rambut gua.. terus—…” “Perhatian!” Anjrit.. siapa tuh?! Deni, ketua kelas gua tiba-tiba ngomong di depan. Sialan lu Den.. gua lagi ngehayal maen bangunin aja!

Baca Juga  7+ Contoh Naskah Drama Singkat Teater

“Kawan-kawan mohon perhatiannya sebentar.” Mahasiswa-mahasiswa di kelas itu langsung menaruh perhatian. “Hari ini ada mahasiswa baru pindahan dari Jakarta. Dia masuk kelas kita. Gua juga ga ngerti sih kenapa bisa diizinin, padahal udah deket sama ahir semester. Tapi ya secara otomatis, dia sekarang resmi terdaftar sebagai anggota kelas kita.” Beberapa mahasiswa mengamati rekan baru mereka tersebut dari ujung rambut sampe ujung kaki. Tapi lebih banyak yang tidak mempedulikan. Dan gue.. Gue masih sibuk ngehayal, oke?! Gue lagi bawain lagunya Escape The Fate – Gorgeous Nightmare.

“Is it the way that you talk
That’s causing me to freak?
Is it the way that you laugh
That’s making my heart beat?
Is it the way that you kiss?
It’s gotta be the way that you taste, you taste, you taste, you taste

You’re such a gorgeous nightmare
Old habits never seem to go away
You make me feel brand new yeah
We resurrect it’s like I’ve come back to life
I feel so alive
I feel so—……” “Oh ya kawan-kawan..” Aaa.. anjrit! Hhh ni orang ga boleh liat gua seneng dikit apa?!!

“Tadi saya mendapat pesan dari Pak Bagus, kita disuruh melanjutkan sendiri diskusi kelompok kita yang minggu lalu. Hari ini beliau berhalangan hadir. Terima kasih.”

Ajritlah tuh dosen.. tau gini gua langsung cabut ke tempat festival dari habis ulangan.. Sekarang kan hampir selesai kali tu acara.. aaaahhhh!

“Sorry..” tiba-tiba mahasiswa baru yang dikenalin tadi ngedatengin terus nyapa gue.
“Apa?” Jawab gue datar karena masih kesel dan ga mau diganggu.
“Gue Yogi, nama lu siapa?”
“Dega.”
“Sorry kayaknya gue ganggu nih”
Mendengar kalimat tersebut gue langsung tersadar bahwa gue udah bersikap kasar sama mahasiswa baru di depan gue ini.
“Ehh.. Nyantai aja bro.. Cuma ya gitulah, biasa.. ada masalah dikit” Kata gua sambil melempar sedikit senyum.
“Oh, kirain.. hehe..”
Dari tampangnya kayaknya anak baik-baik nih..
“Masalah apa sih kalo boleh tau? Masalah diskusi kelompok yang tadi diumumin yah?”
“Hahaha.. boro-boro. Ga penting.”
“Loh.. setau gue tugas dari dosen itu selalu penting buat mahasiswa.”
“Iya, itu buat lo.. mahasiswa yang emang bener-bener mahasiswa.”
“Maksudnya? Lo juga mahasiswa kan? Lo kuliah di sini kan?”
“Iya.. maksud gua, penting buat mahasiswa yang emang bener-bener udah pada tempatnya. Udah duduk di bus tujuan mereka masing-masing yang memang mereka inginkan.”
“Maksudnya?”
“Gue ga niat kuliah di sini.”
“Ga suka sama universitasnya?”
“Bukan. Jurusannya..”
“Ohh.. I see. Kalo lu ga suka sama jurusan bahasa dan sastra indonesia, terus lu sebenernya sukanya apa?”
“Gue lebih seneng musik.”
“Terus kenapa lu masuk sini? Orang tua?”
“Iya bro.. biasalah..”
“Lu suka musik?”
“Gitu deh..”
“Suka bikin lagu?”
“Suka”
“Puisi?”
“Emmm.. lumayan.”
“Gue heran. Kenapa lo ngerasa salah jurusan?”
“Gue kan udah bilang, kalo gue lebih seneng musik.”
“Iya. Terus kenapa? Is there something terrible? Lu suka bikin puisi, bikin lirik lagu, bikin musiknya. Itu sama sekali tidak bertolak belakang man.”
“Maksud lo?”
“Come on. Sastra bahasa indonesia dan musik itu sama-sama seni. Bisa saling mendukung man. Sebuah lagu itu, kekuatannya bukan hanya pada musik, tapi juga pada maknanya bro. Dan di situlah kemampuan sastra seorang musisi dapat dinilai. Alat musik ibarat pena. Lirik itu ibarat puisi. Dan musisi ibarat penyair. Inget itu bro..”
Tiba-tiba ada suatu kehangatan menyundut dada gua setelah mendengarkan kata-kata dari orang yang baru gua kenal ini.
“Iya sih, lu bener bro. Kayanya lu juga tau banyak tentang musik yah?”
“Gitu deh.. bokap gua kan produser rekaman gitu. Ya sengaja atau ga sengaja, gue tau dikit-dikit tentang musik.”
“Wow”
“Kenapa?”
“Engga..”
“Eh lu mau ga ketemu sama bokap gue? Pasti kalian nyambung. Dan…. siapa tau lu bisa diorbitin sama dia.. hehe.”
“Ah bisa aja loh haha.”
“Mau ga?”
“Eh iya mau mau, mau banget.. Oops.. hehehehe.”

Lu tau bro? Besoknya gua langsung ketemu sama bokapnya Yogi. Setelah satu minggu gua ngobrol sambil pedekate.. hehe, Pak Santo nyuruh gua bikin demo lagu. Jeng jengg.. Rasanya kaya ketiban duren mengkel tau ga lo hahaha.. Langsung deh gue calling temen gue, Ave. Buat bantuin bikin sekaligus ngaransemen lagu. Nah, lagu itu yang dibikin demo dan gue kasih ke Pak Santo. Dan lu tau bro? Rasanya kaya ketiban duren mengkel segede nangka dan bijinya emas asli semua. Demo lagu kita diterima dan.. ehem ehem.. Kita masuk dapur rekaman bro! – Contoh Cerpen Persahabatan

Penutup

Demikian sekilas ulasan tentang Contoh Cerpen Persahabatan yang bisa anda jadikan referensi. Sumber : Pakar SEO

TOP